Tapis Dan Sulam Usus: Kerajinan Khas Lampung

foto oleh : Aan Prihandaya

Tapis Dan Sulam Usus: Kerajinan Khas Lampung

01.jpg

Kain tapis adalah kain khas dari Lampung yang berbentuk kain sarung terbuat dari tenun benang kapas yang disulam dengan benang emas dan benang perak bermotifkan seperti motif alam, flora dan fauna.

Hiasan-hiasan yang terdapat pada kain tenun Lampung juga memiliki unsur-unsur yang sama dengan ragam hias di daerah lain. Seperti telah disebut di atas, biasanya bermotifkan alam. Namun kebanyakan saat ini bermotifkan gajah ataupun siger sebagai ikon propinsi Lampung.

Kain tapis Lampung yang merupakan kerajinan tenun tradisional masyarakat Lampung ini dibuat dari benang katun dan benang emas. Benang katun adalah benang yang terbuat dari bahan kapas dan digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan kain tapis, sedangkan benang emas dipakai untuk membuat ragam hias pada tapis dengan cara disulamkan.

Lama pengerjaan kain tapis sangat bervariatif tergantung tingkat kerapatan sulaman benang emasnya. Kadang bisa diselesaikan dalam waktu satu minggu, namun juga bisa diselesaikan selama satu bulan.

Ibu Hj. Siti Rahayu, didukung oleh saudaranya Aan Ibrahim, sengaja mengkoordinir dan memfasilitasi para perajin kain tapis di sekitar Bandar Lampung dan Lampung Barat.  Beliau juga menyisihkan sebagian ruang rumahnya di daerah Kedaton, Bandar Lampung sebagai workshop.

Menurut Ibu Hj. Siti Rahayu, Tapis Lampung termasuk kerajian tradisional karena peralatan yang digunakan dalam membuat kain dasar dan motif-motif hiasnya masih sederhana dan dikerjakan secara manual. Kerajinan ini biasa dikerjakan oleh ibu rumah tangga maupun remaja putri di Lampung untuk mengisi waktu senggang. Memang, rata-rata pekerjaan pokok mereka adalah bertani ataupun berkebun. 

02.jpg

Ibu Hj. Siti Rahayu, konsisten mengembangkan kerajinan kain tapis dan sulam usus

Selain memiliki kain tenun tapis lampung juga memiliki kerajinan sulaman usus. Potensi pasar yang dimiliki sulaman usus sangatlah besar, namun agak sedikit tertinggal karena sulaman yang dibuat dari sutra kecil-kecil tersebut memerlukan waktu yang cukup lama dalam pengerjaannya.

Sulaman usus, biasanya, dikerjakan ibu-ibu dan remaja putri. Kerajinan tersebut awalnya diperkenalkan masyarakat asli Lampung dan biasanya digunakan untuk pakaian wanita, kemeja pria, hiasan dinding hingga tempat tisu.

Dalam perkembangannya, sulaman model tersebut banyak digunakan para desainer sebagai asesoris untuk rancangannya. Bahkan, pasarnya sudah termasuk golongan ekonomi kelas atas. Kelebihannya, selain bentuk dan motifnya klasik, sulaman usus Lampung juga sangat halus. Tak heran bila sulaman itu banyak dicari pedagang, baik untuk pasar dalam negeri maupun mancanegara.

Kain tapis dan sulam usus saat ini diproduksi oleh pengrajin dengan ragam hias yang bermacam-macam sebagai barang komoditi yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Dua bersaudara, Aan Ibrahim dan Siti Rahayu selalu berinovasi membuat desain baru untuk mengembangkan kerajinan ini dan rajin mengikuti pameran di berbagai tempat untuk mengenalkan kain khas dari Lampung ini.

16.jpg    Aan Ibrahim mengenalkan kain tapis dan sulam usus ke manca negara (foto: Yudhi Sulistyo)

Namun saat ini kerajinan sulaman tersebut semakin sedikit yang menggeluti. Sebab, selain pengerjaannya yang rumit, juga membutuhkan kesabaran yang tinggi untuk mengerjakannya. Keberadaan kain tapis dan sulam usus memperkaya warna budaya  asli Indonesia, dan semoga akan terus bertahan sampai makin banyak orang yang suka akan keunikannya. Salam Kratonpedia.

03.jpg

kain yang akan disulam direntangkan pada tekang

04.jpg benang emas

05.jpgdibutuhkan waktu seminggu hingga sebulan untuk menyulam benang emas, tergantung kerapatannya

06.jpg dibutuhkan ketekunan untuk menghasilkan tapis yang indah

07.jpg kopiah tapis bersulam emas

08.jpgdisiapkan pola motif sulam usus

12.jpgbenang sulam usus, terbuat dari sutera

10.jpgsulaman sudah terlihat bentuknya

11.jpg

warna benang diseusaikan dengan motif yang diinginkan

13.jpgmerangkai sulaman menjadi baju

(teks : Aan Prihandaya foto : Aan Prihandaya & Yudhi Sulistyo)


Pin It

Foto terkait

Artikel terkait